ADD THE SLIDER CODE HERE

Kamis, 23 Januari 2014

Marching Band Muhammadiyah Sukolilo Meriahkan Meron 2014

Rabu, 15 Januari 2014 masyarakat desa Sukolilo merayakan Meron. Meron adalah suatu tradisi di desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang berupa arak-arakan dan dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu pada tanggal 12 Robiul awal. Meron dibuat oleh para perangkat desa Sukolilo. Kata meron sendiri mempunyai banyak makna kata. Dalam bahasa kawi meron diartikan gunung karena bentuknya yang mirip gunung. Sedangkan dalam bahasa Jawa kuno berasal dari kata Merong yang berarti perang. Selain itu meron diartikan emper/serambi karena sebelum diarak, dipajang di emper rumah kediaman pemiliknya. Meron dalam bahasa Arab berasal dari kata Mi’roj yang berarti kemenangan dan dalam Kirata Basa (Jawa) me yang berarti rame dan ron yang berarti tiron yang maksudnya ramene tiron-tiron karena meron ini merupakan bentuk tiruan dari sekatenan di Yogyakarta. Meron diadakan dengan tujuan untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW dan untuk melestarikan tradisi budaya masyarakat Sukolilo yang sudah turun-menurun dilaksanakan.

Sebulan sebelum perayaannya, di sepanjang jalan raya desa Sukolilo sudah dipenuhi oleh para pedagang. Pedagang ini berasal dari beberapa daerah di luar desa Sukolilo dan ada pula beberapa warga setempat yang ikut berjualan. Barang-barang yang mereka jual bermacam-macam. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, aksesoris, kerajinan tangan, mainan, alat rumah tangga dan masih banyak lagi. Malam menjelang meron, keramaian memuncak . Banyak warga yang memadati pertigaan atau sepanjang jalan raya desa Sukolilo untuk menyaksikan pertunjukan ulan-ulan. Ada beberapa dukuh yang menampilkan ulan-ulan diantaranya lebak kulon, lebak wetan, dan sumbergeneng

Saat yang paling dinantikan oleh warga adalah perayaan meron. Meron diarak dari rumah perangkat desa masing-masing menuju ke masjid Baitul Yaqin. Setelah semua meron sampai di sana, selanjutnya dilakukan upacara meron. Acaranya meliputi sambutan-sambutan yaitu sambutan dari panitia, kepala desa dan beberapa pihak lainnya kemudian dilakukan panjatan doa. Selesai panjatan doa, nasi dan buah-buahan yang ada dalam ancak diperebutkan oleh warga. Dipercaya makanan-makanan tersebut membawa berkah. Setelah semuanya selesai, bagian-bagian meron seperti ancak, mustaka dan gunungan dibawa pulang ke rumah perangkat desa masing-masing. Ada yang diarak kembali dan ada pula yang dibawa pulang dengan menggunakan truk untuk menghemat waktu dan tenaga.

Dalam perayaan meron ini, gabungan siswa siswi SMP –SMA-SMK Muhammadiyah Sukolilo ikut meramaikannya melalui penampilannya dalam Marching Band Muhammadiyah Sukolilo (MBMS). Beberapa lagu yang dibawakan diantaranya My Leccon, Perahu Layar, Musnah, Java Medle, Buka Sitik Joss dan Hampa Hatiku. Marching Band Muhammadiyah Sukolilo tampil untuk mengiringi meron salah satu perangkat desa yaitu kaur keuangan dan sekaligus untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Dengan adanya tradisi meron ini, diharapkan dapat mempromosikan atau mengenalkan tradisi desa Sukolilo agar dapat dikenal oleh daerah lain. Lisda Oktaviantina

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More